Posisi Sunnah Rasul SAW Terhadap Al-Qur’an

SUNNAH RASULULLAH SAW.

Bagaimanakah kedudukan Sunnah Rasulullah SAW terhadap al-Qur’an?, sangat penting untuk dipahami bagi para penetap hukum. Sumber pertama hukum dalam Islam adalah al–Qur’an sedangkan yang kedua adalah Sunnah Rasul SAW. Khususnya para mujtahid yang ingin menetapkan suatu hukum maka yang pertama-tama dicarinya adalah ayat-ayat yang terdapat dalam al-Qur’an. Apabila tidak menemukan ayat yang dicarinya yang berbicara mengenai masalah tersebut hendaknya mencarinya di dalam Sunnah Rasul SAW.
Posisinya Sunnah Rasul SAW terhadap AL-Qur’an bila ditinjau dari segi materi hukum yang terkandung di dalamnya secara umum para ulama membagi menjadi tiga macam.

1. Menguatkan ( Muakkid ) hukum suatu peristiwa/kejadian yang telah ditetapkan hukumnya oleh al-Qur’an kemudian dikuatkan oleh sunnah Nabi SAW.

Tersebut dikuatkan dan ditetapkan oleh dua sumber hukum yaitu al-Qur’an dan Sunnah SAW. Shalat dan Zakat adalah contoh yang telah ditetakan hukumnya di dalam al-Qur’an dalam surat Al-Baqarah 2:43 .
وَأَقيمُوا الصَّلوٰةَ وَءاتُوا الزَّكوٰةَ وَاركَعوا مَعَ الرّٰكِعينَ
Artinya : dan dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat dan ruku’lah beserta orang-orang yang ruku’. Yang dimaksud Ialah: shalat berjama’ah dan dapat pula diartikan: tunduklah kepada perintah-perintah Allah bersama-sama orang-orang yang tunduk.
Demikian juga tetang perintah puasa yang telah ditetapkan hukumnya dalam al-Qur’an yaitu surat Al Baqarah surat 183.

يٰأَيُّهَا الَّذينَ ءامَنوا كُتِبَ عَلَيكُمُ الصِّيامُ كَما كُتِبَ عَلَى الَّذينَ مِن قَبلِكُم لَعَلَّكُم تَتَّقونَ

Artinya ;” Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.”
Kemudian perintah-perintah tersebut dikuatkan oleh Rasulullah SAW. Dalam sabdanya sebagaimana diriwayatkan oleh Imam Muslim yang bersumber dari sahabat Umar bin Khatab r.a. yaitu sebagai berikut :“ Ketika kami sedang duduk bersama Rasulullah SAW., tiba-tiba datang seorang lelaki yang mengenakan baju putih dan rambutnya hitam kelam, kemudian dia meletakkan lututnya berhadapan dengan lutut Rasulullah SAW., kemudian berkata “ Wahai Muhammad…,terangkan kepadaku tentang Islam? Kemudian Rasulullah SAW menjawab “ Islam itu adalah engkau bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Allah dan Muhammad adalah utusan Allah, engkau mengerjakan shalat, membayar zakat, berpuasa di bulan Ramadhan dan menunaikan Haji ke Baitullah apabila mampu…”
Contoh yang berupa larangan yang terkandung dalam al-Qur’an yang berupa larangan berbuat syirik terdapat dalam surat An-Nisaa ayat 48.

إِنَّ اللَّهَ لا يَغفِرُ أَن يُشرَكَ بِهِ وَيَغفِرُ ما دونَ ذٰلِكَ لِمَن يَشاءُ ۚ وَمَن يُشرِك بِاللَّهِ فَقَدِ افتَرىٰ إِثمًا عَظيمًا

Artinya ; Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni segala dosa yang selain dari (syirik) itu, bagi siapa yang dikehendaki-Nya. Barangsiapa yang mempersekutukan Allah, Maka sungguh ia telah berbuat dosa yang besar.

2. Memberikan penjelasan terhadap ayat-ayat al-Qur’an.

Perincian terhadap ayat-ayat yang masih global sebagaimana diisyaratkan dalam Surat An-Nisa ayat 103.

فَإِذا قَضَيتُمُ الصَّلوٰةَ فَاذكُرُوا اللَّهَ قِيٰمًا وَقُعودًا وَعَلىٰ جُنوبِكُم ۚ فَإِذَا اطمَأنَنتُم فَأَقيمُوا الصَّلوٰةَ ۚ إِنَّ الصَّلوٰةَ كانَت عَلَى المُؤمِنينَ كِتٰبًا مَوقوتًا

Artinya ; Maka apabila kamu telah menyelesaikan shalat(mu), ingatlah Allah di waktu berdiri, di waktu duduk dan di waktu berbaring. kemudian apabila kamu telah merasa aman, Maka dirikanlah shalat itu (sebagaimana biasa). Sesungguhnya shalat itu adalah fardhu yang ditentukan waktunya atas orang-orang yang beriman.
Kandungan dalam ayat tersebut masih bersifat global, maka Rasulullah SAW. Kemudian menjelaskan secara terinci tentang waktu waktu shalat, syarat shalat dan rukunnya dengan cara praktek langsung yang kemudian beliau tegaskan dalam sabdanya sebagaimana diriwayatkan oleh Iman Bukhari “ Shalatlah kalian sebagaimana kalian melihat aku shalat. Demikian halnya dengan ibadah yang lainnya seperti ; Zakat, Haji dan lain-lain.

  • Membatasi kemutlakannya; maksudnya adalah ada beberapa ayat yang masih bersifat mutlak, tetapi kemudian Rasulullah SAW membatasi kemutlakannya ayat tersebut. Contohnya dalah ketika seorang telah mendekati ajalnya kemudian membuat wasiat terkait dengan hartanya dalam al-Qur’an tidak memberikan batasan, sepertinya berapapun boleh. Maka kemudian Rasulullah SAW membuat batasan bahwa diperbolehkan maksimal 1/3 dari hartanya yang akan ditinggalkan. Dengan catatan bahwa wasiat yang berkaitan dengan harta tidak diperuntukkan kepada keluarga yang secara syari’at memang berhak menerima harta waris. Penjelasan hal wasiat terdapat dalam surat An-Nisaa ayat 12.

Artinya :dan bagimu (suami-suami) seperdua dari harta yang ditinggalkan oleh isteri-isterimu, jika mereka tidak mempunyai anak. jika isteri-isterimu itu mempunyai anak, Maka kamu mendapat seperempat dari harta yang ditinggalkannya sesudah dipenuhi wasiat yang mereka buat atau (dan) sesudah dibayar hutangnya. Para isteri memperoleh seperempat harta yang kamu tinggalkan jika kamu tidak mempunyai anak. jika kamu mempunyai anak, Maka Para isteri memperoleh seperdelapan dari harta yang kamu tinggalkan sesudah dipenuhi wasiat yang kamu buat atau (dan) sesudah dibayar hutang-hutangmu. jika seseorang mati, baik laki-laki maupun perempuan yang tidak meninggalkan ayah dan tidak meninggalkan anak, tetapi mempunyai seorang saudara laki-laki (seibu saja) atau seorang saudara perempuan (seibu saja), Maka bagi masing-masing dari kedua jenis saudara itu seperenam harta. tetapi jika saudara-saudara seibu itu lebih dari seorang, Maka mereka bersekutu dalam yang sepertiga itu, sesudah dipenuhi wasiat yang dibuat olehnya atau sesudah dibayar hutangnya dengan tidak memberi mudharat (kepada ahli waris)[274]. (Allah menetapkan yang demikian itu sebagai) syari’at yang benar-benar dari Allah, dan Allah Maha mengetahui lagi Maha Penyantun.
keterangan : Memberi mudharat kepada waris itu ialah tindakan-tindakan seperti: a. Mewasiatkan lebih dari sepertiga harta pusaka. b. Berwasiat dengan maksud mengurangi harta warisan. Sekalipun kurang dari sepertiga bila ada niat mengurangi hak waris, juga tidak diperbolehkan.
Sedangkan hadits yang membatasi kadar wasiat tersebut diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Imam Muslim yang bersumber dari sahabat Sa’ad bin Abi Waqqas r.a.

  • Mengkhususkan ayat yang masih bersifat umum atau mengecualikan atas bangkai ikan laut dan belalang serta hati dan limpa yang termasuk ketagori darah seperti yang diriwayatkan oleh oleh Ibnu Majah: “ dihalalkan bagi kami dua macam darah, dua macam bangkai itu

3. Menciptakan Hukum Baru Yang Tidak Terdapat Dalam Al-Qur’an

         Poin ini cukup banyak contoh yang dapat dikemukakan, diantaranya adalah Nabi SAW menetapkan keharaman binatang buas yang bertaring kuat dan juga burung yang berkuku kuat. Sebagaimana diriwayatkan oleh oleh Imam Muslim yang bersumber dari sahabat Ibn ‘Abbas.
Hukum-hukum yang ditetapkan Rasulullah SAW secara mandiri tersebut meskipun bersumber dari ijtijad beliau namun harus diyakini bahwa hal tersebut pasti kebenarannya. Karena Rasulullah SAW terpelihara dari berbuat salah (ma’shum) yang mengandung arti apabila ada ketetapan-ketetapan hukum agama yang menurut pandangan Allah salah maka akan turun ayat yang menegurnya. Penegasan apa yang disampaikan oleh Rasulullah SAW. Pada hakikatnya adalah wahyu yang dijelaskan dalam surat An-Najm ayat 3 dan 4.
Ayat ketiga artinya : dan Tiadalah yang diucapkannya itu (Al-Quran) menurut kemauan hawa nafsunya.
Ayat empat artinya: itu tiada lain hanyalah wahyu yang diwahyukan (kepadanya).

Karena pada hakikatnya semua bersumber dari Allah maka mustahil apa yang Rasulullah SAW sampaikan itu bertentangan dengan Al-Qur’an.

One comment on “Posisi Sunnah Rasul SAW Terhadap Al-Qur’an

  1. Interesting read. Hope google translate did a good job. I didn’t know there was a second source for Islamic law. “Practice regular charity” I think is a good thing for all of humankind to follow. It’s essential to see beyond yourself, as if you were the centre of the universe, especially as some people are indeed born with great handicap.

    “Whoever joins other gods, it is a great sin” is similar to Christian religion where God said not to worship false prophets/other gods. It’s interesting, and has me wonder are all the religions talking of the one God, in fact. Who knows.

    I appreciated reading this, thanks, as I’m fairly ignorant in these matters. Cheers.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s